Kamis, 30 Agustus 2007
PD atau Narsis y?????
Tapi biasanya diatas sikap PD, timbullah narsisi...
Tanda-tanda narsis
Sebenarnya tiap orang punya kecenderungan narsis. Tapi, kadarnya itulah yang berbeda-beda. "Narsis sudah menjadi gangguan kepribadian kalau sudah mengganggu kehidupan kita sehari-harii. Ada beberapa tanda narsis dari Diagnostics and Statistics Manual, Fourth Edition- Text Revision (2000) yang harus kita waspadai untuk tahu apakah kita mengidap narsis atau tidak.?????
Orang narsis merasa dirinya sangat penting dan pengin banget dikenal oleh orang lain karena kelebihannya. Ini yang banyak terjadi pada remaja. Karena mereka merasa "Kalau orang lain selalu merhatiin kita, selalu mengagumi kita, berarti kita lebih segala-galanya dari mereka. Dan remaja kebanyakan pengin semua orang bersikap gitu sama pada dirinya. Dan pengen membuktikan sama diri sendiri kalau gue memang punya banyak kelebihan dibandingin orang lain!" Tapi gak semua remaja kayak gitu…
Pengidap narsis juga yakin kalau dirinya unik dan istimewa. Pokoknya nggak ada deh yang bisa menyamai dirinya. "Kadang- kadang kita gak sadar kale lo tindakan yang kita lakukan itu sebenarnya narsis.. Kadang kita memang suka mencontohkan diri kepada ke teman-teman terhadap suatu hal yang kita tahu pi sedikit berlebihan…. Misalnya lagi ngomongin soal dandanan, kita bilang, ’Nih kayak gue gini rapinya!’ Mank, sih gak kelihatan sengaja muji-muji diri sendiri, cuma ngasih contoh yang benar saja." Tapi ………
Gejala lain, mereka selalu ingin dipuji dan diperhatikan. Mereka kurang sensi terhadap kebutuhan orang lain karena yang ada dalam pikirannya cuma diri sendiri. Ditambah lagi, adanya rasa percaya orang lain itu berpikiran sama dengan dirinya. Orang narsis juga sensi banget kalau dikritik. Kritikan kecil bisa berarti sangat besar buat mereka. "Gue paling benci yang kayak gitu (dikritik). Apalagi kalau nyela dan ngeritiknya di depan orang lain! Emang dia siapa nyela-nyela dan ngeritik gue? Mungkin iya gue punya kekurangan, tapi kan enggak mesti diomongin. Biar saja gue nyadar sendiri!" ujar Dion yang waktu diwawancara lagi bergaya ala J-Pop.
Terlepas dari tanda-tanda secara ilmiah tadi, gejala yang paling jelas adalah para narsis doyan banget ngaca alias bercermin! Pokoknya enggak bisa lihat kaca nganggur, deh!
Narsis vs PD
Mencintai diri sendiri adalah suatu keharusan. Kalau ini enggak dilakukan, gimana kita bisa PD? Tapi kalau berlebih juga enggak sehat karena ujungnya kita bisa narsis. Terus, apa batasannya PD yang masih sehat?
Goleman dalam Abnormal Psychology (Rathus dan Nevid-2000) menjelaskan perbedaan PD yang normal dan narsisme yang membahayakan. Kita yang PD menghargai pujian, tetapi tidak menganggap itu sebagai keharusan demi menjaga self esteem. PD sehat juga tercermin dari keterbukaan terhadap kritik dan hanya mengalami kekecewaan yang sebentar kalau dikritik. Meskipun enggak dapat perlakuan istimewa, orang yang PD tetap fine dan enggak kecewa seperti orang narsis. Kadar PD kita juga sehat ketika kita masih bisa mengerti dan sensitif pada perasaan orang lain.
Ada cara menjaga PD supaya enggak jadi narsis, yaitu, "Mendengarkan kritik dari orang lain. Cara terbaik, bercermin ke orang lain. Kalau punya sahabat dan kita yakin sahabat itu akan kasih pendapat yang sangat netral dan tidak bias, kita bisa nanya, sebenarnya aku gimana, kekuranganku apa, kelebihanku apa?". Dari sini kita bisa tahu kualitas apa yang ada di diri kita. Sadari juga kalau enggak ada manusia yang enggak punya kekurangan. Kekurangan itu pun enggak usah bikin kita jadi down abis, seperti yang biasa dialami para narsis. Kita justru cari jalan lain untuk menggantinya. Misal, ikutan les lukis kalau ternyata enggak berbakat di bidang jurnalistik.
Orang yang benar-benar PD enggak perlu memamerkan semua kelebihannya. Dia tahu kualitas dirinya dan tidak bergantung kepada orang lain agar merasa nyaman. Sebaliknya, orang narsis justru butuh pengakuan orang lain demi menggenjot rasa PD-nya. Inilah rahasia terbesar orang narsis. Sebenarnya Jauh dalam hati mereka, tersimpan sebuah jiwa yang sangat rapuh dan mereka menutupinya dengan menekankan betapa hebatnya mereka yang terbukti dari banyaknya pujian dari orang lain.
Seperti tokoh ibu tiri Putri Salju yang selalu bertanya pada kaca ajaibnya, "Mirror… mirror on the wall. Who’s the fairest of them all?"
PD itu emang penting but.... jangan OVER deh...!!!
Kapan ya Remaja Dewasa?????
Saat remaja kita pasti mengalami kedewasaan. Tapi itu kapan ya??? Sebelum itu kita harus tau......
Dewasa Itu Apa Sih?
Tingkat kedewasaan seseorang enggak selalu berbanding lurus dengan usianya. Orang yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Lalu, bagaimana mengukur tingkat kedewasaan seseorang?
Kadang - kadang kita para remaja pada sebel kalo dibilang, "Kamu kok enggak dewasa gitu, sih?" Atau nyokapnya juga pernah komentar, "Sayang, kamu kan sudah gede, dewasa dikit dong."
Kita mungkin pernah menghadapi situasi seperti diatas. Atau kita sendiri sudah bosan dibilang anak- anak, pengin dianggap gede. Dibilang anak-anak ogah, dibilang dewasa juga masih bingung. Memang dewasa itu kayak apa ya?
Hmmmm,, Ada beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kedewasaan seseorang.
1. Intelektual
Dari segi ini kita dikatakan dewasa dilihat dari kemampuan kita membentuk pendirian. Artinya, kita punya pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang- ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap. Tapi, tetap memerhatikan pendapat orang lain walaupun tidak bersandar pada pendapat itu. Kemampuan mengambil keputusan sendiri dengan tegas dan bebas berdasarkan bukti, alasan nyata, dan nasihat baik dari orang lain, serta bertanggung jawab dengan segala keputusan kita. Tidak bingung kalau ada masalah, tapi dianalisis sebab-sebabnya sehingga bisa dicari kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya.
2. Emosional
Kita dikatakan sebagai orang dewasa secara emosional ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya, apa pun emosi yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.
3. Sosial
Kedewasaan kita dari segi sosial tampak dari keterbukaan terhadap orang lain. Sanggup membuat persahabatan. Tidak bergantung kepada siapa pun, tapi bukan berarti kita tidak butuh orang lain. Kita bisa menyesuaikan diri dan hormat dengan hukum, kebiasaan, dan adat-istiadat masyarakat di mana pun kita berada.
4. Moral
Dari segi moral dapat dilihat dari kesetiaan kita pada asas- asas moral dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya semakin dewasa diri kita, akan semakin mementingkan orang lain daripada diri sendiri.
5. Spiritual
Kedewasaan dari segi ini bisa dilihat dari cara berkeyakinan yang tidak sempit. Kita mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang- orang yang keyakinannya berbeda dari diri kita. Kalau sudah mencapai hal itu, kita mampu mencintai orang lain tanpa batas-batas agama, ras, suku, atau golongan.
Kadang kita berfikir klo dewasa itu ribet...Lalu, apakah seseorang yang disebut dewasa kemudian meninggalkan segala bentuk keceriaan, kegembiraan, dan kegairahan hidup? Tentu saja tidak. Orang dewasa tidak harus selalu bersikap serius. Adakalanya orang dewasa juga bersikap jahil dan senang bercanda untuk memecah kebekuan atau menurunkan ketegangan.
Penghambat kedewasaan
Kedewasaan tidak selalu berhubungan dengan umur. Kadang ada orang yang umurnya boleh dibilang tua, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan, suka menang sendiri, emosian, dan enggak mau kalah. Tapi, ada yang sebaliknya walaupun usianya masih muda, dia mampu menjadi panutan teman-temannya.
Kedewasaan adalah proses perkembangan kepribadian. Karena proses, jadi enggak bisa instant. Tidak bisa hanya dengan berdandan ala orang dewasa terus jadi orang dewasa. Kedewasaan itu lebih ke sikap kita dalam menghadapi apa pun. Memang sih, mestinya yang umurnya lebih banyak dia akan lebih dewasa karena sudah mengalami banyak hal dalam hidup dan lebih banyak belajar dari pengalaman. Tapi nyatanya tidak selalu begitu, ini karena pendewasaan dalam prosesnya bisa mengalami kemajuan, mandek, bahkan mundur. Orang yang selalu belajar dari pengalaman dan suka introspeksi diri biasanya proses kedewasaannya makin maju. Artinya, makin hari ia makin tumbuh menjadi manusia yang lebih bijaksana. Sebaliknya, orang yang cepat merasa puas sehingga merasa tidak perlu belajar lagi, manja, tidak mau dikritik dan selalu lari dari masalah akan mengalami hambatan dalam proses pendewasaannya.
Latihan untuk dewasa.....:
Ciri paling mencolok dari orang yang tidak dewasa adalah egoisme yang tinggi. Artinya, selalu mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan orang lain.
So, latihan pertama untuk menjadi dewasa adalah berlatih untuk mengurangi sifat egois kita.
Latihan selanjutnya adalah belajar untuk menerima diri sendiri apa adanya. Pada dasarnya orang menjadi egois karena ia tidak mampu untuk menerima dirinya sendiri apa adanya. Jadi, cobalah eksplor diri sendiri kekurangan dan kelebihannya. Terimalah apa pun yang ada pada diri sendiri. Hanya dengan menerima diri sendiri apa adanya, kita akan mampu bersikap terbuka pada orang lain.
Mencintai semua yang ada dalam diri kita sendiri merupakan dasar untuk bisa mencintai semua manusia. Kalau kita mampu mencintai semua manusia apa adanya, itu berarti kita telah sampai di "puncak kedewasaan"!
Kuncinya adalah belajar… berlatih… belajar... berlatih teruuuuus !
Khan g' ada salahnya untuk mencoba.... G' rugi khan...!!!!
Rabu, 29 Agustus 2007
Rabu, 22 Agustus 2007
Masalah Para Remaja
And,,, Kini para remaja sudah banyak yang salah arah. Untuk itu sebaeknya perlu memahami sifat dan keinginan para remaja, karena jiwa para remaja sedang labil. Salah satu penyebab para remaja salah jalan adalah kurang perhatian dari keluarga terutama orang tua.
Terdapat beberapa perkara yang perlu diketahui oleh orang tua dan masyarakat mengenai emosi anak remaja mereka, kesilapan-kesilapan yang dilakukan oleh ibu bapa dan pengaruh rakan sebaya ke atas remaja.
1. Keinginan naluri remaja itu sendiri.
Seorang ahli psikologi Barat, Carl Rogers (1985), berkata seseorang yang memasuki alam remaja akan mengalami beberapa perubahan ketara. Perubahan ini dengan jelas menunjukkan bagaimana rakan sebaya begitu penting bagi memenuhi tuntutan naluri seseorang remaja itu. Di antara perubahan itu ialah kecenderungan berkumpulan dan tidak suka dikongkong. Dari aspek kecenderungan berkumpulan Rogers berkata, perubahan emosi dan fikiran mendorong remaja memperluas jaringan rakan sosialnya mengikut umur sebaya, hobi, prinsip hidup dan cara berpakaian yang sama. Adalah perkara biasa pada tahap ini jika remaja dikesan ingin memiliki identiti tersendiri, walaupun ada di antara mereka yang kemudiannya mengalami krisis identiti. Perubahan ini adalah perkembangan sihat dalam pertumbuhan dan perkembangan mental remaja. Namun remaja boleh terjerumus ke dalam kegiatan tidak sehat jika mereka salah memilih kumpulan. Remaja juga mudah berasa kuasa yang ada pada ibu bapa, guru dan orang dewasa terlalu kuat dan boleh menghalang cita-cita mereka. Perbedaan pendapat dan gaya hidup di antara remaja denganorang tua, guru dan orang dewasa akan mencetuskan rasa permusuhan dan berasa diri dikongkong. Ini kerana golongan remaja menganggap bantahan itu merendahkan harga diri mereka yang memang sedang bergelora. Konflik harga diri ini menyebabkan remaja menjadikan rakan sebaya sebagai ‘tempat mengadu. Malah, mereka juga akan melakukan sesuatu yang drastik bagi membuktikan mereka boleh berdikari atau mampu bertindak seperti orang dewasa.
2. Keluarga terlalu sibuk.
Orang tua yang terlalu sibuk tanpa mampu meluangkan masa secukupnya untuk mendampingi anak remaja masing-masing akan menyebabkan anak mereka mencari alternatif. Remaja yang tidak mendapat kasih sayang dan tumpuan sewajarnya daripada orang tua dan keluarga, akan mendapatkannya daripada orang luar termasuk rakan sebaya.
3. Komunikasi kurang berkesan.
Komunikasi kurang berkesan juga menyebabkan remaja lebih selesa berkongsi masalah, suka dan duka dengan rakan sebaya. Dalam masalah ini seharusnya orang tua membuka ruang yang lebih luas untuk mendengar permasalahan atau luahan perasaan anak remaja masing-masing. Cuba memahami naluri mereka. Kurangkan penggunaan kuasa sebagai orang tua untuk memaksa anak-anak mendengar atau mematuhi semua arahan. Karena para remaja juga mempunyai suatu keinginan
4. Maruah diri.
Remaja yang berhadapan dengan masalah membabitkan nama baik keluarga dan maruah dirinya, yang memungkinkannya dihukum jika perkara ini dimaklumkan kepada keluarga, akan menggunakan rakan sebaya sebagai pendengar dan pemberi nasihat.
5. Kurang keyakinan.
Rasa kurang yakin terhadap diri sendiri, orang tua dan adik beradik turut menyebabkan remaja mencari seseorang atau sekumpulan insan lain yaitu rakan sebaya sebagai tempat bergantung atau berlindung. Sikap acuh tidak acuh terhadap tanggungjawab sebagai orang tua dalam sesebuah keluarga, menyebabkan anak remaja memandang rendah kemampuan orang tua dan ahli keluarga. Mereka berasa lebih selamat dan selesa apabila bersama rakan sebaya berbanding keluarga.
6. Sindrom kurang daya tahan iman.
Kurangnya pengetahuan agama menyebabkan jiwa remaja kekosongan. Jiwa yang kosong ini, jika tidak diisikan dengan perkara berfaedah atau kegiatan membina sifat-sifat positif, akan dipenuhi dengan unsur negatif yang membinasakan.
Sebaiknya para orang tua lebih memahami para remaja karena remajalah yang akan menjadi penerus bangsa.